MEMBANGUN KESEIMBANGAN ANTARA  AGAMA DAN KEBUDAYAAN DALAM KEHIDUPAN BERMASYARAKAT
Oleh : S.Pelu


Kata “agama” berasal dari bahasa Sansekerta āgama  yang berarti “tradisi”. Sedangkan kata lain untuk menyatakan konsep ini adalah religi yang berasal dari bahasa Latin religio dan berakar pada kata kerja re-ligare yang berarti “mengikat kembali”. Maksudnya dengan ber-religi, seseorang mengikat dirinya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Agama merupakan  sistem atau prinsip kepercayaan kepada Tuhan, atau juga disebut dengan nama Dewa atau nama lainnya dengan ajaran kebhaktian dan kewajiban-kewajiban yang bertalian dengan kepercayaan tersebut. Agama juga dapat diartikan A = tidak, gama = kacau. Agama sama dengan tidak kacau, sama dengan tentram. Atau masih dalam pengertian yang senada dalam bahasa yang lebih sederhana, agama bertujuan memberi ketentraman kepada pengikutnya (umat manusia) yang dikaitkan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Agama adalah sistem atau prinsip kepercayaan kepada Tuhan dengan ajaran kebaktian dan kewajiban-kewajiban yang bertalian dengan kepercayaan itu (KUBI, 1995).
Secara umum, ada yang mengatakan bahwa agama langit/ samawi merupakan ajaran atau syari’at dari Tuhan yang diturunkan dengan jalan wahyu, diturunkan kepada manusia melalui wahyu. Adapula yang mengatakan definisi agama secara umum adalah kepercayaan yang suci yang terkumpul dalam suatu set prilaku yang menunjukkan ketundukan pada suatu Dzat, kecintaan, hinaan keinginan dan kekaguman.

Tahap Manusia Mulai mengenal Agama yang disebut First stage adalah tahap agraris dimana pada awal manusia berada di bumi, mula mula manusia berorientasi terhadap medan operasionalnya yang bernama alam atau lingkungan tempat nya tinggal. Pada tahap pertama ini, manusia belum mengenal Allah hanya mengenal alam, lalu Allah menyatakan “ Tuhan lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan hujan dari langit, lalu dengan air hujan itu Dia mengeluarkan berbagai buah-buahan sebagai rezeki untukmu, Maka sadarlah manusia bahwa ternyata ada Sang Penguasa yang telah menciptakan langit, bumi serta menurunkan hujan. Dengan air hujan itu pepohonan bisa tumbuh dan berbuah, lalu manusia tinggal memakannya. Pada saat itu manusia masih dalam tahap dilayani Tuhan, suatu tahapan ketika manusia masih bergantung pada suplemen alam. Untuk mencari makan, mereka berpindah pindah dari satu tempat ke tempat lainnya.

Asal Mula Kebudayaan
Kata kebudayaan dalam bahasa Indonesia, berasal dari bahasa Sansekerta buddhayah, kata ini bentuk jamak dari buddhi yang berarti “budi” atau “akal”. Maka dengan demikian kebudayaan dapat diartikan “hal-hal yang bersangkutan dengan akal”. Maka kebudayaan adalah segala hasil dari cipta, karsa dan rasa (Koentjaraningrat, 1990: hal 80).
Ada beberapa definisi tentang asal mula kebudayaan, misalnya menurut E.B. Tylor, kebudayaan adalah keseluruhan kompleks yang meliputi pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, tata cara dan kemampuan apa saja lainnya, kebiasaan yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat. Kemudian ada lagi yang mendefisikan kebudayaan adalah suatu yang lahir karena adanya pergaulan manusia. Ia merupakan suatu kumpulan yang termasuk di dalamnya adat istiadat, ilmu pengetahuan, kepercayaan, kesenian, achlak, hukum dan tiap-tiap kesanggupan serta kelakuan manusia yang dijelmakan oleh manusia sebagai anggota dalam suatu pergaulan masyarakat. Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks dari ide-ide, gagasan-gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan-peraturan dan sebagainya. Wujud ini bersifat abstrak, tidak dapat diraba atau difoto. Wujud ini hanya ada dalam alam pikiran dari warga masyarakat dimana kebudayaan yang bersangkutan hidup.Dengan semakin berkembangnya teknologi, kebudayaan idel ini banyak sudah tersimpan di dalam buku-buku, arsip, rekaman-rekaman tape. Kebudayaan ideal ini disebut juga adat tata kelakuan.
Kelestarian dan keseimbangan antara agama, dan budaya yang diwarisi masyarakat secara turun temurun merupakan modal besar dalam mewujudkan keserasian. keberadaan antara budaya dan agama menjadikan suatu pondasi dalam mengembangkan dan mempromosikan ajaran yang diyakininya serta menjadikan itu sebagai kebijakan sosial di mata masyarakat. Sejak awal kebudayaan dan agama pertama kali datang ke Indonesia bahwa oleh para padagang Gujarat dan Hadramaut ke sekitar  abad ke-13. Kedatangan islam ke nusantara berlangsung secara damai tanpa melalui cara peperagan islam dapat diterima di masyarakat karena para peperangan. Islam dapat diterima di masyarakat karena para pedangang menggunakan pendekatan budaya, adat, dan bahasa penduduk setempat sebagaimana pintu masuk dakwah meraka. Akan tetapi jika budaya setempat bertentangan dengan ajaran islam, mereka mengubahnya dengan penuh kelembutan dan kesabaran.dengan cara islamisasi cultural ini masih bisa dilihat warisan-warisan budaya yang masih di jaga samapai sekarang ini . Agama dan Kebudayaan adalah dua hal yang sangat berbeda. Agama selalu dikatakan bersumber dari Tuhan Yang Maha Esa, Penguasa Alam Semesta beserta segala isinya, sedangkan kebudayaan adalah produk manusia. Penggabungan kata agama dan kebudayaan, akan melahirkan agama kebudayaan dan kebudayaan agama. Keduanya sangat berbeda. Agama kebudayaan adalah kepercayaan tentang Tuhan yang berasal dari kebudayaan. Timbulnya kepercayaan ini, karena manusia dihadapkan kepada misteri tentang kehidupannya di muka bumi ini. Manusia merasakan ada sesuatu yang mengatur dunia ini. Siapa? hingga hari ini merupakan misteri yang hanya terjawab secara ideasional yaitu yang disebut Tuhan. Contoh seperti ini adalah aliran kepercayaan dengan berbagai istilah dan aliran seperti dinamisme, animisme. Sedangkan kebudayaan agama justru sebaliknya. Kebudayaan agama bersumber dari agama yang kemudian melahirkan kebudayaan-kebudayaan, baik dalam tataran ide maupun material dan perilaku. Dalam konsep ini, manusia tidak perlu lagi mencari Tuhan, manusia harus menerima adanya Tuhan. Contoh kebudayaan agama ini adalah munculnya rumah-rumah ibadah, cara hidup bagi yang beragama Islam disebut islami, bagi yang beragama Kristen disebut kristiani dan seterusnya.  Lalu bila ada pertanyaan, mana yang lebih dahulu ada, kebudayaan atau agama? Pertanyaan ini tidak dapat disamakan dengan mana terlebih dahulu ada telur atau ayamnya. Pastinya jawabannya adalah kebudayaan. Kebudayaanlah yang lebih dahulu ada daripada agama. Bukti-bukti mendukung pendapat ini, hingga saat ini masih ditemukan yaitu masih ada masyarakat yang belum beragama, namun mempunyai kebudayaan.
Hubungan Agama Dengan Budaya
Pakar antropologi A.L. Kroeber dan C. Kluckhon dalam sebuah artikelnya yang masyhur “Culture : a Critical Review of Concepts and Definition” yang terbit pada tahun 1952 telah menganalisis dan mengklasifikasi 179 definisi kebudayaan. Prof. H.A.R. Tilaar mwngatakan bahwa hakikat dan inti dari kebudayaan itu adalah “manusia”, dengan kata lain kebudayaan adalah ciri khas manusia. Hanya manusia yang berkebudayaan. Dalam kajian islam, penyebab utama mengapa manusia memiliki keistimewaan itu disebut karena “akal manusia yang kreatif”, yang mampu membuat gagasan-gagasan inovatif untuk mengubah dan menyempurnakan apa yang telah berhasil dilakukan dan dialaminya. Hal demikian tidak dapat dilakukan makhluk lain termasuk malaikat. Oleh karena itu yang mendapat mandate sebagai “Khalifah Allah di bumi” adalah manusia.
Terdapat masalah isu lama dan menjadi bahan polemic antara para ahli dan menimbulkan pro-kontra, yakni masalah : Apakah agama yang menjadi bagian dari kebudayaan. Ataukah kebudayaan yang menjadi bagian dari agama ?. bagi para antropolog dan sejarawan umumnya menganggap bahwa agama itu merupakan bagian dari kebudayaan (religion is a part of every known culture). Karena memandang kebudayaan sebagai titik sentral kehidupan manusia, dan mereka tidak membedakan antara agama / kepercayaan yang lahir dari keyakinan masyarakat tertentu, dengan agama yang berasal dari wahyu tuhan kepada Rosul-Nya. Sedangkan para agamawan, pada umumnya memandang agama sebagai sumber titik sentrak kehidupan manusia, terutama yang ada kaitannya dengan system keyakinan (credo) dan system peribadatan  (ritus). Agama mempunyai doktrin-doktrin (pokok-pokok ajaran) yang mengikat pemeluknya, diantara doktrin tersebut ada yang bersifat dogmatis (inti keyakinan), yang tidak mungkin ditukar dengan tradisi dan system kebudayaan yang berlawanan. Meskipun demikian, dalam agama terdapat koridor yang memungkinkan adanya penyesuaian atau penyerapan antara agama dengan tradisi dan budaya yang berlaku di suatu masyarakat. Disana terjadi proses saling mengisi, saling mewarnai dan saling mempengaruhi.
Hubungan antara agama dan kebudayaan memang tidak selalu harmonis. Sedikitnya ada empat kategori hubungan antara agama dengan kebudayaan, dengan meminjam formulasi  Prof. G. Van Der Leeuw sebagai berikut :
1.     Agama dan keudayaan menyatu.
2.     Agama dan kebudayaan renggang.
3.     Agama dan kebudayaan terpisah.
4.     Agama dan kebudayaan saling mengisi.
Dengan demikian menjadi jelas, bahwa hubungan antara agam adan kebudayaan tidak bersifat statis, tetapi berkembang secara dinamis dalam perjalanan sejarah. Walaupun pengamatan Prof. G. Van Der Leeuw tadi mencerminkan pengalaman dari masyarakat Barat modern, namun pengamatan itu dapat kita ambil manfaat juga dalam mempelajari perkembangan di Negara kita.
Islam Mencakup Agama dan Budaya
Kebudayaan atau peradaban terbentuk dari akal budi yang berada dalam jiwa manusia. Karena itu bentuk kebudayaan selalu ditentukan oleh nilai-nilai kehidupan yang diyakini dan dirasakan oleh pembentuk kebudayaan tersebut yaitu manusia. Kebudayaan atau peradaban yang berdasar pada nilai-nilai ajaran islam disebut kebudayaan islam. Dalam pandangan ajaran islam, aktivitas kebudayaan manusia harus memperoleh bimbingan agama yang diwahyukan oleh Allah SWT. Melalui para nabi dan rasulnya.
Manusia pada dasarnya tidak mungkin dapat mengetahui seluruh kebenaran, bahkan tidak memiliki kemampuan untuk menentukan semua kebaikan dan keburukan. Hal ini bisa dibuktikan dengan perbedaan tata nilai yang beraneka ragam dalam kehidupan bangsa-bangsa di dunia. Suatu hal yang dianggap baik dan terpuji oleh bangsa dalam Negara tertentu, sebaliknya hal itu dianggap sesuatu yang buruk dan tercela disuatu bangsa dan Negara lain. Akal dan fikiran manusia tidak mampu menentukan semua kebaikan atau keburukan, karena itu banyak hal yang dianggap baik oleh akal fikiran ternyata buruk menurut agama. Banyak hal yang dianggap buruk oleh akal fikiran manusia, justru dianggap sesuatu yang terpuji menurut agama.
Dengan demikian, agar kebudayaan terlepas dari jalan yang sesat dan sebaliknya mengikuti jalan yang benar dan terpuji, maka harus dilandasi oleh ajaran agama.
Nilai-Nilai Dasar Islam Tentang Kebudayaan
Umat islam sejak sejarah perkembangannya yang paling awal sampai pada masa kini, telah banyak menyumbangkan karya-karya besar bagi kehidupan dunia yang merupakan bagian dari kebudayaan dan peradaban mereka. Dalam budaya intelektual umat islam banyak melahirkan tokoh-tokoh besar dibidang ilmu pengetahuan agama, seperti lahirnya tokoh-tokoh aliran dalam ilmu kalam dan karya-karya mereka, tokoh-tokoh dibidang syariat dan fiqih dikenal dengan imam-imam madzab, seperti hanafi, maliki, hambali dan syafi’i. Dalam bidang filsafat juga melahirkan para tokoh dari kalangan filsof muslim, seperti al-Kindi, al-Farabi, al-Razi, Ibnu Rusyd, dan sebagainya. Dalam bidang tasawuf melahirkan tokoh-tokoh besar, seperti Haris al-Muhasibi, Ibnu Arabi, Dzunun al-Misri, Rubai’ah al-Adawiyah, Al-Ghazali, dan beberapa tokoh lain.
Selain melahirkan tokoh-tokoh besar dalam berbagai bidang tersebut diatas, dalam pengembangan sains dan teknologi juga melahirkan beberapa tokoh, antara lain: Muhammad al – Khawarizmi, ahli matematika, Abu yusuf ya’qub dibidang fisika, ibnu sina dibidang kedokteran dan berbagai tokoh lain yang jumlahnya sangat banyak.
Seiring dengan perkembangan jaman, Belakangan ini banyak ajakan hijrah, dari terbuka menuju tertutup, baik itu pakaian maupun pikiran. Doktrin-doktrin yang tak mampu membedakan antara agama dan budaya berkeliaran, mencari mangsa atau sekedar hinggap di kepala orang-orang yang belum cukup paham agama. Saat ini banyak orang kesulitan membedakan antara agama dan budaya, sering sekali ditemui budaya yang dianggap atribut agama, fenomena ini yang kemudian menjadi keriteria orang yang belum sepenuhnya memahami agama secara sempurna. Ironisnya, religiusitas keagamaan diukur dari budaya yang dianggap atribut agama itu, hal ini yang kemudian mengikis kebudayaan Nusantara, karena tidak ada agama-agama besar yang turun atau lahir di Nusantara. Dengan masalah yang demikian, menjadi sangat perlu memvitalkan kembali pemahaman agama dan budaya. Agama sangat jarang berbenturan dengan budaya, sedangkan budaya yang disakralkan atau budaya yang dianggap atribut agama sangat sensitif dengan budaya lain. Tentu pemahaman yang baik bukan yang hanya mencari perbedaan atau persamaan belaka, tetapi keduanya adalah unsur pemahaman yang sempurna, oleh karena itu antara agama dan budaya harus jelas perbedaan dan persamaannya untuk melahirkan pemahaman agama secara sempurna. Jika memang berbeda tidak perlu dipaksa sama, sebab selain berbeda tidak selalu bertentangan, juga bangsa yang dewasa bukan yang memaksakan persamaan, tapi menghargai perbedaan. Perbedaan yang ada antara agama dan budaya selayaknya tidak dijadikan sebuah pertentangan, melainkan didialogkan demi menciptakan peradaban yang lebih tinggi. Budaya untuk menunjukkan sebuah eksistensi bangsa, bukan simbol dari sebuah agama. Budaya Arab bukan simbol Islam, begitu pula budaya-budaya lain bagi agama yang lahir di dalamnya.
Oleh karena itu, tolak ukur ketaatan umat beragama bukan dengan cara menunjukkan budaya tertentu, tapi tolak ukur seorang dalam memahami agama dapat dilihat dari bagaimana agama dijadikan bukan sekedar mengatur hubungannya dengan Tuhan, tapi juga hubungannya dengan sesama. Jadi, kesempurnaan agama adalah memanusiakan manusia melalui nilai-nilai ketuhanan. Dengan demikian bahwa sistem agama dan kebudayaan dalam hal ini ialah bersifat kekeluargaan dan gotong royong sebagaimana di rumuskan dalam Pancasila. Membangun budaya dan agama harus dimulai dengan membangun keluarga dan masyarakat yang sejahtera, maka akan lahir masyarakat yang makmur dalam membangun peradaban yang maju, tentram.dan sejahtera.







Komentar

Postingan populer dari blog ini